Mengenang Pak Harto

Masa Kecil Pak Harto

H.Muhammad Soeharto adalah Presiden Republik Indonesia yang ke-2. Lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921. H. Muhammad Soeharto yang biasa dipanggilPak Harto atau Soeharto memulai pendidikan Sekolah Dasar (Ongko Loro) di Kemusuk (1929- 1931), Sekolah Rakyat di Wulantoro (1931- 1935), melanjitkan SMP di Yogyakarta (1935 – 1939) dan SMA di Semarang.

Ia lahir dari keluarga sangat sederhana, kedua orangtuanya bercerai sehingga ia dititipkan kepada pamannya yang adalahseoran pegawai negeri. Soeharto di sekolahkan dan dibesarkan bersama dengan saudara- saudaranya. Ia sangat senang bermain di sawah, pandai menangkap belut dan tidak pernah melewatkan kesempatan mencicipi nikmatnya belut panggang. Permain kesukaannya ialah plinteng dan bandil, bikinannya sendiri.

Riwayat Pekerjaan

Riwayat pekerjaan dan jabatan Pak Harto begitu panjang. Bahkan Pak Harto pernah memulai pekerjaan sebagai pembantu klerk bank desa di Wuryantoro tahun 1940. Karir Pak Harto sebagai militer dimulai ketika beliau memasuki Sekolah Dasar Militer (1940), Sekolah Kader Kopral (1940), Sekolah Kader Sersan (1941). Anggota kepolisian di Yogyakarta (1942), Shodancho PETA (1943), Tjudancho PETA (1944). Selama tahun 1945 – 1950, Pak Harto terlibat secara langsung dalam perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Selama Kurun waktu tersebut Pak Harto memegang jabatan sebagai Komandan Kompi, Komandan Batalion A, Komandan Brigade, Komandan WK (Wehr Kreise), Yogyakarta. Pada tahun 1950 Pak Harto sebagai Komandan Brigade Pragola Solo (1951- 1953) dan Komandan Resimen15 (1953- 1956).

Pada tahun 1956 Pak Harto menjabat sebagai Perwira Menengah yang diperbantukan Kepala Staf untuk mengikuti Planning SUAD. Kemudian Pak Harto ditunjuk untuk menjabat sebagai Kepala Staf Tutorial IV, Semarang (1956). Jabatan sebelumnya adalah Pejabat Panglima Tutorial IV Semarang (1956- 1959) sekaligus merangkap sebagai Dewan Kurator AMN (1957 – 1959), Deputy | Kasad (1960-1961), Deputy | Kasad merangkap Ketua Ad Hoc Retoling Depad, merangkap Panglima Korps Tentara | Tjaduad. Panglima Mandala (1962-1963) merangkap DEJANID (1962), Panglima KOSTRAD (1963-1965). Menteri anglima Angkatan Darat/ Kpala Staf KOTI pada tanggal 1 Juli 1966.

Karir sebagai tentara dimulai ketika sekolah Bintara KNIL di Gombong (1940). Ia prajurit teladan dan dalam waktu luar biasa singkat, naik pangkat menjadi sersan. Ketika Jepang mendarat di Jawa, Pak Harto dan teman – temannya menyingkir dari ‘KNIL’ dan pulang kampong. Di masa ini ia mendaftarkan diri sebagai sukarelawan Keibuho, Pasukan Kepolisian Jepang. Kemudian ia pindah ke PETA, atas nasihat atasannya seorang Jepang. Ia mencapai pangkat Shodancho, komandan pleton.

Masa Proklamasi Kemerdekaan

Pada masa Proklamasi Republik Indonesia 1945, Pak Harto kembali ke pangkalannya di Gunung Wilis. Kemudian pada 5 Oktober 1945 Pak Harto resmi masuk TNI. Umurnya ketika itu 24 tahun. Pernah mengawal Panglima Besar Jendral Soedirman. Menjadi komandan berbagai tingkat kesatuan.

Di usia yang ke 26, ia menikah dengan Siti Hartina –atau yang lebih akrab disebut Ibu Tien Soeharto, tepatnya 26 Desember 1947 di Solo. Pasangan ini dikaruniai tiga orang putri dan tiga orang putra : Siti Hardijanti Hastuti (Tutut), Sigit Harjojudanto (Sigit), Bambang Trihatmojo (Bambang), Siti Hediati Harjadi (Titik), Hutomo Mandala Putra (Tommy) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).

Pada 19 Desember 1948, Belanda melancar Agresi Militer Kedua, setelah melakukan agresi pertama 27 Juli 1947. Pasuka NICA menduduki Yogya, masuk lewat Maguwo. Mereka tak terbendung karena sebagian besar pasukan TNI, termasuk Komando Wehrkreise III pimpinan Letkol Soeharto, sudah ditarik keluar kota. Yang ada di kota tinggal satu kompi Pengawal Brigade dan Pengawal Presiden di bawah Komando Militer Kota (KMK) pimpinan Kapten Litief Hendraningrat.

Para Petinggi, termasuk Panglima Soedirman yang dalam keadaan sakit, mengungsi dan meneruskan perang gerilya. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M. Hatta memutuskan tetap berada di tempat. Kemudian mereka ditawan dan dikirim ke Prapat, Sumatera Utara, lantas dipindahkan ke Bangka. Bung Karno memerintahkan Sjafruddin Prawiranegara memimpin pemerintahan darurat dari Sumatera Barat.

Serangan Umum 1 Maret

Dalam kondisi pemerintahan yang terpuruk, Letkol Soeharto merancang dan melancarkan serangan umum ke sejumlah markas dan pos pertahan tentara Belanda di dalam kota Yogya, tanggal 1 Maret 1949. Pak Harto memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949 ke Kota Yogyakarta yang diduduki tentara Belanda, untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia Merdeka masih eksis.

Dihantam dalam serangan dadakan, pasukan Belanda pimpinan Kolonel Van Lengen, kocar- kacir. Merek hanya bisa bertahan, meminta bala bantuan ke Magelang dan Semarang. Dalam pertempuran enam jam, Ibukota Yogyakarta, dikuasai pasukan gerilya. Para pejuang mengibarkan Bendera Merah Putih di Jalan Malioboro, di jantung kota Yogya dan di beberapa tempat lainnya. Kemenangan ini disambut warga kota dengan sukacita. Mereka tak lupa menyediakan makanan dan minuman seadanya.

Tag :

museum pak harto, perjuangan soeharto, pak harto, sejarah soeharto, musium pak harto, sejarah pak harto, mengenang soeharto, kisah perjuangan soeharto, Perjuangan suharto, perjuangan pak harto