Pemimpin Indonesia Seperti Soeharto, Akan Lahir 100 Tahun Lagi


Pada tahun 1984 pemerintahan Presiden Soeharto memperkenalkan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), yaitu pengembangan kesehatan anak mulai dari penimbangan badan dan mengatasi kekurangan gizi.

Mantan wartawan Istana era orde baru, Tarman Azam menegaskan kondisi gonjang-ganjing yang dialami Indonesia diprediksi masih berjalan lama. Karena Indonesia tidak lagi memiliki sosok pemimpin yang berkualitas dan berwawasan Indonesia, sehebat Soeharto.

Read more

Tidak ada yang bisa menyangkal pembangunan Indonesia tumbuh di masa kepemimpinan Soeharto. Figur Presiden Kedua RI inilah menjadikan ekonomi Indonesia sebagai macan Asia, ujar Tarman Azam dalam Peluncuruan Buku Ketiga Persaudaraan Wartawan Istana (Pewaris) berjudul Pro dan Kontra Pak Harto di gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (8/6/15).

Bahkan, lanjutnya karakter kepemimpinan Soeharto itu hanya muncul lagi pada generasi berikutnya. Setelah 100 tahun Indonesia menjalani masa kehidupannya. Dan selama proses itulah kehidupan Indonesia masih penuh kesulitan.

Tarman mengakui figur Soeharto bukan sosok sempurna. Ada sejumlah kesalahan yang juga terjadi. Tetapi lebih banyak kebaikan yang telah dilakukan Soeharto.

Dalam sejarah manapun, Tarman menyebutkan figur-figur pemimpin tidak bisa lepas dari sisi kekurangan. Bahkan sehebat Napoleon Bonaparte terdapat kelemahan. Maka tidak tepat menilai keburukan Soeharto secara serampangan.

Wartawan senior ini menilai pada sisi manapun terbukti fondasi pemikiran Soeharto diakui pada jaman setelah kepemimpinannya. Terbukti dari berbagai program yang telah dilakukan pada era kepemimpinan Soeharto kembali dilakukan.

Menurutnya terbitnya buku Pro dan Kontra Pak Harto itu bisa menambah wawasan generasi muda terhadap sosok Soeharto. Tidak lagi terbelenggu pada pemahaman negatif yang dibangun pihak lain yang tidak bertanggung jawab terhadap figur pemimpin bangsa ini.

Sementara itu Koodinator Pewaris, Koos Arumdanie menambahkan pengalaman wartawan Istana menuliskan sosok Soeharto bisa menjadikan informasi terbaru bagi masyarakat. Membeberkan sejumlah fakta yang selama ini tidak banyak dikenal publik terhadap pemikiran Soeharto.

Diakuinya buku yang ditulis 14 pewarta Istana periode 1966 – 1998 masih perlu banyak perbaikan. Maka direncanakan sejumlah buku yang menuliskan sosok Soeharto bakal ditulis pada edisi berikutnya. Sehingga pemahaman masyarakat pun dapat semakin lengkap. (Biro Sekretariat Universitas dan Hubungan Masyarakat / Sumber : mercubuana.ac.id

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *