Bedah Buku “PRO DAN KONTRA PAK HARTO”

YOGYAKARTA – Bertempat di lantai 3 Kampus Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY). Rabu (10/6/15) di adakan bedah buku yang berjudul ‘Pro Kontra Pak Harto’. Buku ini merupakan Lepasan ke 3, yang diterbitkan oleh PEWARIS (Persaudaraan Wartawan Istana). Buku tebal dalam 610 halaman dengan Cover foto depan Soeharto dan sampul belakang foto bersama AH Nasution, Soekarno serta Soeharto.
Secara umum,buku berisi tulisan dari 14 wartawan saat itu yang meliput kegiatan Presiden Soeharto periode 1966-1998 dari berbagi media. Sebagai Editor nya Koos Arumdanie.
Di acara bedah buku ini, dengan 2 nara sumber,yang pertama Letjen (Purna) Kiki Sjahnakri (mantan wakasad)  orang yang dekat dan ikut berkiprah dalam pemerintahan Soeharto dari pandangan militer. Serta Prof Dr Priyono Tjipto dari Fakultas Ekonomi UI yang membahas persoalan Ekonomi.
Di hadapan 800 peserta yang terdiri dari unsur TNI / Polri,Rektor PTS se Yogyakarta, Mahasiswa, Kepala Disdikbudparpora serta Kepala sekolah SMA/SMK, pembicara menjelaskan isi buku yang berusaha mengambarkan situasi saat itu.
Menyampaikan bagaimana fakta dan kenyataan yang sebenarnya. Sehingga generasi selanjutnya tidak terjebak dalam Pro dan Kontra terhadap sosok Soeharto. Dimana tanpa di setujui pun, Sosok Soeharto telah menorehkan jasa dan mengukir sejarah perjalanan Bangsa ini.
Pro dan Kontra Pak Harto merupakan hal yang tak terhindarkan. Karena tergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Menurut Prof. Prijono, kekuatan komponen penentu bernegara sekarang ini tidak lagi monopoli 3 golongan (Eksekutif, Legislatif, Yudikatif).
“Kekuatan ke 4 yaitu mass Media, lengsernya Soeharto tak lepas dari peran Media,” ujar Prof. Prijono.
Bagaimana media saat itu, betul betul memojokan, membuat opini dan mencuci otak bangsa ini. Apalagi dengan Pers Asing dengan kepentingan nya, yang ikut membuat gambaran Indonesia di mata dunia, memang sudah harus di ganti kepemimpinanya. Semua komponen bangsa saat itu seperti di berangus rasa ketimuranya, tidak ada lagi penghormatan pada Soeharto. Namun setelah berjalanya waktu, Soeharto yang di cap Koruptor kelas 1 di dunia. Tak terbukti sampai saat ini.
Letjed (purn) Kiki Syahnarki, pun serupa. Lengser nya Soeharto tak lepas dari peran asing. Bahkan dengan mantap nya mengutarakan, Demokrasi 1998, adalah demokrasi yang di beli, banyak kepentingan asing di sana.
“Dan ini sekenario besar” tegas Kiki Syahnarki.
Di akhir kata nya,Kiki Syahnarki mengatakan. Ada wartawan Wasington Post membuat tulisan saat itu seperti ini.
“Soeharto sepertinya memang Korupsi, tapi usia harapan hidup masyarakatnya saat pertama memimpin dari 56thn, naik menjadi 71thn. Dan dia sosok pemimpin yang kuat, membangun dengan rencana yang matang. Soeharto memilih menteri tidak mau dari politikus, pasti dipilih dari profesioanal. Dan memilih menteri, tidak terburu buru untuk menentukanya, harus tahu bagaimana orang tersebut sebenarnya, itulah Soeharto,”.
Banyak sekali sebenarnya yang di kupas dalam buku ini, termasuk sepak terjang soeharto dalam menentukan keputusan keputusan,tak pernah Soeharto melangkah tanpa ada pertimbangan yang matang.